5 Tempat Berburu Batik di Pekalongan

Butik batik bisa ditemukan di seluruh penjuru kota, membuat kota ini layak dijuluki destinasi wisata batik. Menginjakkan kaki di kota Pekalongan, identitas sebagai kota batik sangat terasa. Sungguh berbeda dengan beberapa tahun lalu, ketika saya mengunjungi kota ini. Dulu, berbelanja batik hanya bisa dilakukan di pasar grosir batik atau toko batik. Kini, butik batik ada di mana-mana. Rumah-rumah perajin pun membuka diri sebagai rumah batik. Dari rumah-rumah batik, kemudian membentuk satu kampung batik. Dari kumpulan kampung batik itulah identitas Kota Pekalongan sekarang dibentuk. Berikut adalah beberapa tempat Anda bisa berburu batik yang layak dikoleksi.

batik pekalongan

1. Kampung Batik Wiradesa
Kampung batik Wiradesa adalah salah satu sentra penghasil batik. Di sini, kita bisa singgah ke workshop pembuatan batik. Salah satunya, Batik Wirokuto milik pengusaha batik Romi Oktabirawa. Saya diajak melihat-lihat proses pembuatan sebuah kain batik, dari proses menggambar motif, memberi warna dengan cara colet (sapuan kuas), membuat batik cap, dan menggoreskan canting di atas sehelai kain untuk membuat batik tulis. Koleksi kain Wirokuto tergolong murah. Untuk sehelai kain batik Wirokuto jenis cap dengan kombinasi tulis, harganya antara Rp150.000- Rp1 juta.

Dari pria yang saat ini menjabat Presiden Komisaris PT GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) ini, saya mendapat banyak cerita sejarah batik di Pekalongan. “Batik Pekalongan itu lebih dinamis. Sebagai daerah pesisir. Dalam berapresiasi lebih bebas bila dibanding daerah keraton. Hal ini bisa dilihat dari warna-warnanya yang lebih spektakuler, dengan motif yang tidak menggunakan pakem tertentu. Berbeda dengan batik Solo, Yogya, atau kota-kota di Jawa Barat yang cenderung masih bertahan pada tradisi atau pakem yang diyakini,” ujar Romi, yang aktif di Paguyuban Pencinta Batik di Pekalongan.
Romi menambahkan, batik Pekalongan dipengaruhi oleh Cina, India, Eropa, dan Arab. Pengaruh Belanda sudah ada sejak abad ke-19, dipopulerkan oleh pencinta batik berdarah Indonesia-Eropa, Van Zuylen, dan istrinya, Eliza Van Zuylen, yang bermukim di Pekalongan.

2. International Batik Center
Berminat mencari batik terbaik Pekalongan? Di sinilah tempatnya: International Batik Center. Inilah ‘supermarket’ yang khusus menjual batik tulis dan batik cap. Dari segi desain, baju-baju jadi yang dijual di sini juga mencerminkan selera kelas menengah yang dinamis dan ingin tampil stylish. Butik Qonita dan butik Tobal menjadi pilihan saya. Saya pun mempraktikkan tip mengidentifikasi batik yang diberikan oleh Romi. Mengidentifikasi apakah suatu batik itu adalah batik print atau tulis. Pertama, dari motifnya tidak ada perulangan. Detail konturnya pasti ada yang berbeda, entah itu ada titik yang agak besar dan ada yang lebih kecil, atau ada warnanya yang pecah. Kedua, jika kainnya dibalik, pada batik tulis, warnanya sama antara permukaan dengan bagian dalamnya. Ketiga, apakah pada kainnya ada bau malam atau tidak? “Kalau batik print biasanya bau minyak,” begitu pesan Romi.

Kebetulan sekali, saat saya datang, sedang berlangsung pameran batik antik. Motif batik dari Cirebon, Lasem, Tegal, bisa dilihat di sini. Ada pula kain-kain dari tahun 1930-an, warisan tak ternilai. Dari display yang ada, banyak jenis motif baru yang lahir sejak tahun 2009, ketika batik dinyatakan sebagai intangible culture oleh UNESCO.

3. Kampung Batik Pesindon
Di Pekalongan bukan hal aneh bila Anda menemukan satu kampung yang semua pendudukanya penjual dan perajin batik. Booming batik membuat beberapa kampung mengklaim dirinya sebagai kampung batik, antara lain Medono, Kauman, Buaran, dan Sampangan. Masing-masing punya ciri khas, bahkan tiap rumah punya goresan motif yang berbeda. Tak hanya ribuan, diperkirakan ada jutaan motif batik yang beredar di Pekalongan.Saya mengunjungi Kampung Batik Pesindon. Jika hotel Anda berada di tengah kota, tempat ini bisa ditempuh dengan becak. Masuk ke dalam gang, Anda akan disambut mural-mural motif batik yang menghiasi lorong dan gang. Sebuah penunjuk arah memberi tanda ke rumah-rumah batik. Ada sekitar 30-an lebih UKM batik di kampung ini.

Saya singgah ke rumah batik Suci dan berbincang-bincang dengan pemiliknya, Ibu Suci. Wanita yang sudah memulai berbisnis batik sejak tahun 1977 ini mengatakan, yang sedang laku sekarang adalah hem pria, sarung tulis, blus wanita, dan kain encim. Salah seorang anaknya, Riza, belum lama mengeluarkan kain batik dengan pewarna alam yang ia sebut batik herbal. Bahan pewarnanya antara lain dari tinggi, jambal, jolawe, mahoni, kunyit, dan teh. Kemeja batik herbal atau sehelai kain batik herbal ini ia jual dengan harga Rp200.000.

4. Pasar Grosir Setono
Mencari batik dengan harga lebih murah? Di Pasar Grosir Setono tempatnya. Di sini, aneka pernik interior rumah juga bisa ditemukan. Kain gorden dari ATBM (alat tenun bukan mesin), sarung bantal, seprai, kosta, taplak batik, dan home set lainnya. Yang menarik, ternyata saya menemukan beberapa counter penjual teh. Sebenarnya, Pekalongan memiliki beberapa pabrik teh, antara lain Teh Nutu, Teh Bandulan, Teh Tjangkir, Teh Sigma, Teh Pucuk Daun, dan Teh Jawa. Saya membeli satu pak Teh Jawa Tubruk Premium berisi 5 kotak, seharga Rp21.000.

5. Batik Art, Oey Soe Tjoen
Batik sebagai mahakarya seni bernilai tinggi, baru saya sadari setelah menemui Widianti Widjajaya. Toko miliknya, Batik Art, berada di Jl. Raya Kedungwuni 104. Ia adalah generasi pembuat batik Oey Soe Tjoen yang sudah mulai membuat batik sejak tahun 1925. Apa yang membuat batik Oey Soe Tjoen diburu oleh para kolektor dari seluruh dunia, yang bahkan tak banyak orang Pekalongan sendiri yang tahu tentang keberadaannya?

Menurut Widi, ciri khas batiknya adalah kain pagi sore yang motifnya bolak-balik memiliki gambar berbeda. Karakter encim terlihat dari warna-warna pastel dan motif buketan (bunga-bunga). Banyaknya pemesan dari Jepang membuat Widi juga menciptakan motif baru, yakni batik Hokokai dengan motif merak, bunga, dan kuku. Salah satu koleksi batik Oey dipajang di Museum Batik Pekalongan. Tak hanya itu, batik ini juga masuk katalog karya seni yang patut dimiliki di Belanda. Pekerjanya yang tinggal 15 orang membuat sehelai kain batik Oey membutuhkan waktu pengerjaan hingga 1,5 tahun atau lebih.

Jika ingin membeli, Anda harus masuk daftar waiting list dan menunggu hingga 3 tahun. Harganya, antara belasan hingga puluhan juta rupiah. Melihat kecantikan kain bermotif Hokkian Phoenix berwarna biru muda di tangan saya ini, rasanya ingin bisa jadi kolektor. Saya jadi bisa merasakan mengapa kain ini harus dimiliki, semahal apa pun itu.

Ficky Yusrini – Femina

Informasi Terbaru

Anda akan belajar bagaimana memilih produk, supplier, promosi, teknik jualan, menghandle customer, membuat toko online, mengurus legalitas bisnis sampai mengelola keuangan. Jika Anda belum ada modal, materi dropship & reseller akan membuka mata betapa nikmatnya jualan itu.

Materi disampaikan oleh ahlinya seperti, Saptuari Kedai Digital, Diajeng pemilik HijUP.com, Muhammad Rosihan owner Saqina.com, Suryadin Dosen Jualan, Afrig Owner CoverSuper.com. Fikry Fatullah Owner YukBisnis.com, Ahmad Zaki Founder BukaLapak.com dan masih banyak lagi.